Nah, yang difikirkan tiada perkaitan pada apa yang dibahaskan. Pada kasar atau halusnya.
Yang bisa dilihat pada ‘hasil’ penapisan mentaliti misalnya, hanya perilaku anak muda; pahitnya digelar harapan bangsa, yang bisa saja tanpa usul periksa sejarahnya mungkin menangguk fantasi pergaulan sekitarnya. Yang dilihat sebagai ide-ide kesempurnaan rohani.
Belum lagi dihalusi kelahiran sang sunti melagu asmara; halus, mulus, jijik. Entah seawal bila yang diukur kemewahan dan kesopanan itu pada kurangnya kemampuan fizikal dihijabkan. Nah kalian, lihat dan tatapilah sehendaknya!
Cuma, yang lebih dirisaukan adalah perihal apa ‘mereka’ ikhlas memberi endah. Perihal anak muda yang berfikir beralaskan ‘kaki ayam’, atau perihal Penjara Pudu yang kononnya menyekat kepesatan pembangunan ilusi sejagat.
“Kita yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air, mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.” (Salim A. Fillah)
Jujur benar, dia rindu Penjara Pudu.